Entri Populer

Minggu, 05 Juni 2011

Perilaku Agresif

EFEKTIFITAS LAYANAN KONSELING KELOMPOK DALAM
MENGURANGI PERILAKU AGRESIF SISWA KELAS VIII
SMP HASANUDDIN 10 SEMARANG
TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Proposal Skripsi


diajukan oleh
Muh Klasin
NPM 07110317


PENDIDIKAN PSIKOLOGI DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI SEMARANG
2011

HALAMAN PENGESAHAN
Kami selaku pembimbing I dan pembimbing II dari mahasiswa IKIP PGRI Semarang:
Nama : Muh Klasin
NPM : 07110317
Fakultas/ Jurusan : FIP PPB
Judul : Efektifitas layanan konseling kelompok dalam
mengurangi perilaku agresif siswa kelas VIII SMP
Hasanuddin 10 Semarang Tahun pelajaran 2010/2011
Tahun Pelajaran 2010/2011
Dengan ini menyatakan bahwa proposal skripsi yang dibuat oleh mahasiswa tersebut di atas telah selesai dan siap di tindak lanjuti.
Semarang, ………………………

Pembimbing I

Prof. Dr. AY. Soegeng, Y. Sh
NIP. 19430227 1981031 0001
Pembimbing II

Agung Prasetyo, S.PSi, M.Pd
NPP: 046901158


A. Latar Belakang
Sekolah merupakan pendidikan yang kedua setelah lingkungan keluarga bagi anak remaja. Selama mereka menempuh pendidikan formal disekolah terjadi interaksi antara remaja dengan sesamanya, termasuk interaksi antara remaja dengan pendidikan. Interaksi yang mereka lakukan di sekolah sering menimbulkan akibat sampingan yang negatif bagi perkembangan mental anak remaja. Dewasa ini pemerintah Indonesia melalui kementerian pendidikan nasional selalu menginstruksikan pentingnya pendidikan karakter anak demi terwujudnya kota layak anak. Wujud dari instruksi tersebut adalah dilaksanakannya pendidikan dan pembimbingan anak dari segi karakter dan sikap baik secara individu atau kelompok. Dalam hal ini peran guru bimbingan dan konseling mempunyai posisi strategis untuk melaksanakan kegiatan tersebut, mengingat seorang guru bimbingan konseling dapat masuk lebih dalam slah satunya dengan kegiatan layanan konseling individu maupun kelompok. Maka dari itu, dengan adanya posisi startegis ini diharapkan perilaku agresif di SMP Hasanuddin 10 Semarang dapat berkurang melalui kegiatan layanan konseling kelompok.
Menurut Sudarsono (2008: 130), terdapat pengaruh negatif dan positif yang timbul di sekolah, anak-anak yang memasuki sekolah tidak semua berwatak baik, dalam sisi lain anak-anak yang masuk sekolah ada yang berasal dari keluarga yang kurang memperhatikan kepentingan anak dalam belajar yang kerap kali berengaruh pada teman lain. Sesuai dengan keadaan seperti ini sekolah-sekolah sebagai tempat pendidikan anak-anak dapat menjadi sumber konflik psikologis yang menjadikan anak frustasi dan berperilaku agresif.
Kepesatan perkembangan konseling dipacu oleh makin meningkatnya konflik dan kecemasan dalam kehidupan sehari-hari yang diakibatkan oleh perubahan sosial, kultural dan ekonomi. Sehingga seringkali ditemukan perilaku-perilaku bermasalah dan agresif siswa atau peserta didik, perubahan pola keluarga, penerimaan masyarakat atas berbagai gaya hidup dan perubahan peranan pekerjaan. Sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional yakni membangun manusia Indonesia seutuhnya, maka upaya yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan generasi-generasi penerus bangsa yang kompetitif dan handal dalam menjalani tantangan hidup. Untuk mencapai tujuan tersebut harus tercipta individu-individu yang sehat dan berperilaku baik sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan secara langsung oleh penulis, karena kebetulan penulis adalah seorang guru Bimbingan dan Konseling di SMP Hasanuddin 10 Semarang sejak tahun 2008, penulis menemukan dan melihat munculnya perilaku agresif siswa di sekolah tersebut. Perilaku agresif yang di lihat oleh penulis adalah bentuk tindakan perilaku bersifat verbal seperti menghina, memaki, marah, dan mengumpat. Sedangkan untuk perilaku agresif non verbal atau bersifat fisik langsung adalah perilaku memukul, mendorong, berkelahi, menendang, dan menampar. Perilaku menyerang, memukul, dan mencubit yang ditunjukkan oleh siswa atau individu bias dikategorikan sebagai perilaku agresif (Itabiliana, 2008: 17).
Secara khusus perilaku-perilaku tersebut menunjukan gangguan-ganguan yang disebabkan oleh proses belajar yang tidak semestinya, seperti gangguan mempelajari jenis-jenis kemampuan yang diperlukan seperti mencintai lawan jenis, memiliki konsep diri yang positif, atau terlanjur mempelajari bentuk-bentuk perilaku yang maladaptif misalnya, anak yang tumbuh menjadi remaja agresif karena meniru perilaku orangtua dan tekanan keadaan di dalam keluarga atau lingkungan yang tidak harmonis. Tugas tenaga pendidik adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik secara utuh dan optimal yang sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksanakan oleh guru, konselor, dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja.
Perilaku agresif dapat dipengaruhi oleh sifat egosentris, yaitu masih sulitnya memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan orang lain atau masih sulit berempati. Jadi individu tidak dapat memahami jika ia memukul atau menghina orang lain, orang tersebut akan merasa sakit. Individu juga mudah menjadi agresif jika kondisi fisiknya sedang tidak nyaman: lelah, lapar, menagntuk, atau sakit (Itabiliana, 2008: 18).
Dengan demikian, jika perilaku agresif yang terjadi di lingkungan sekolah tidak segera ditangani dapat menimbulkan gangguan proses belajar mengajar dan akan menyebabkan siswa cenderung beradaptasi terhadap kebiasaan buruk tersebut. Berdasarkan rambu-rambu pelaksanaan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal terdapat pola pelayanan yang dapat dilaksanakan oleh guru Bimbingan dan Konseling untuk membantu mengembangkan setiap potensi siswa dan memberikan pencegahan dan pengentasan terhadap perilaku bermasalah yang dilakukan siswa sepertihalnya perilaku agresif.
Melihat kondisi ini penulis meggunakan metode layanan konseling kelompok untuk mengurangi perilaku agresif siswa di SMP Hasanuddin 10 Semarang karena pemberian konseling kelompok ditujukan untuk membantu peserta didik yang mengalami kesulitan, megalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas perkembanganya. Sehingga dengan konseling kelompok ini individu mampu mengetahui akan potensi diri, penemuan alternatif pemecahan masalah dan pengambilan keputusan secara lebih tepat dan dapat mengurangi perilaku-perilaku bermasalah termasuk perilaku agresifnya.
Dalam layanan konseling kelompok terdapat dinamika kelompok yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku agesif yaitu, mereka dapat mengembangkan berbagai ketrampilan yang pada intinya meningkatkan kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain seperti berani mengemukakan atau percaya diri dalam berperilaku terhadap orang lain, cinta diri yang dapat dilihat dari dalam berperilaku dan gaya hidupnya untuk memelihara diri, memiliki pemahaman yang tinggi terhadap segala kekurangan dan kemampuan dan belajar memahami orang lain ketegasan dan menerima kritik dan memberi kritik dan ketrampilan diri dalam penampilan dirinya serta dapat mengendalikan perasaan dengan baik.



B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, penulis menemukan bahwa terdapat siswa yang mempunyai perilaku agresif baik bersifat verbal maupun nor verbal (fisik langsung). Dari temuan tersebut penulis menjadikanya sebagai temuan masalah yang akan diteliti dengan menggunakan layanan konseling kelompok yang merupakan salah satu jenis layanan kegiatan bimbingan dan konseling dengan harapan perilaku tersebut dapat berkurang frekuensinya.

C. Pembatasan Masalah
1. Batasan jumlah
Dari segi jumlah penulis membatasi jumlah subyek penelitian adalah siswa kelas VIII di SMP Hasanuddin 10 Semarang yang berjumlah 102 siswa.
2. Batasan tempat
Penulis membatasi tempat dilaksanakannya penelitian adalah di SMP Hasanuddin 10 Semarang tepatnya di Jl. Sedayu Tugu Sembungharjo Genuk Semarang.
3. Batasan waktu
Untuk batasan waktu, penulis menentukan selama tiga bulan waktu minimal terhitung sejak disetujinya proposal penelitian yang diajukan. Dan batasan waktu maksimal sampai berakhirnya kegiatan belajar mengajar semester genap yakni bulan Juni 2011. Hal ini di dasarkan pada kalender akademik sekolah dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dilapangan yang dapat menghambat proses penelitian.
4. Batasan sudut pandang
Dalam penelitian ini penulis membatasi masalah dari sudut pandang psikologis dan sosial. Ditinjau dari aspek psiklogis bahwa sesungguhnya keberadaban manusia ditandai secara signifikan antara lain oleh bagaimana manusia mengolah kecenderungan angresif dan kekerasan yang ada dalam jiwanya menjadi wujud-wujud perilaku beradab yang bersifat kreatif (menumbuhkembangkan kehidupan) dan tidak lagi bersifat destruktif atau mematikan kehidupan (Anantasari, 2006: 52).
Sedangkan dari segi aspek sosial apabila sesorang harus memilih perilaku mana yang mesti dilakukan, maka pada umumnya yang bersangkutan akan memilih alternatif perilaku yang membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi yang bersangkutan. Dengan kemampuan memilih ini berarti faktor berpikir seseorang akan dapat melihat apa yang telah terjadi sebagai bahan pertimbangannya disamping melihat apa yang dihadapi pada waktu sekarang dan juga dapat melihat ke depan apa yang akan terjadi dalam bertindak.
Dengan demikian penulis memilih menggunakan layanan konseling kelompok dalam mengurangi perilaku agresif siswa sebab dalam layanan konseling kelompok memberikan kesempatan kepada anggota kelompok untuk berinteraksi antar pribadi yang khas yang tidak mungkin terjadi pada layanan konseling individu atau perorangan. Interaksi sosial yang intensif dan dinamis selama pelaksanan layanan diharapkan tercapai tujuan-tujuan layanan yang sesuai dengan kebutuha-kebutuhan individu anggota kelompok tetap tercapai secara mantap.
Layanan dengan pendekatan kelompok dalam bimbingan dan konseling merupakan bentuk usaha pemberian bantuan kepada orang-orang yang memerlukan. Dari segi lain, kesempatan mengemukakan pendapat, tanggapan, dan berbagai reaksi dapat merupakan peluang yang amat berharga bagi perorangan yang bersangkutan. Kesempatan timbale balik inilah yang merupakan dinamika dari kehidupan kelompok yang akan membawakan kemanfaatan bagi para anggotanya (Prayitno, 1995: 23).

D. Perumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang permasalahan di atas maka rumusan masalah yang dirumuskan oleh penulis yaitu: “Sejauh manakah efektifitas layanan konseling kelompok dalam mengurangi perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Hasanuddin 10 Semarang Tahun Ajaran 2010/2011”?.

E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menguji keefektifan layanan konsleing kelompok dalam mengurangi perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Hasanuddin 10 Semarang.

F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoretis
Secara teoretis penelitian ini mempunyai manfaat untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka memperkuat ilmu psikologi terutama di bidang psikologi pendidikan, lebih khususnya bimbingan dalam menangani perilaku agresif siswa, supaya perilaku siswa di dalam lingkungan masyarakat, sekolah, dan keluarga dapat tumbuh dan berkembang lebih baik.
2. Manfaat praktis
a. Bagi lembaga pendidikan
Sebagai bahan masukan dalam rangka peningkatan pemberian layanan bimbingan bagi siswa. Selain itu juga dapat mengenalkan kepada siswa tentang arti pentingnya layanan bimbingan dan konseling di dalam lingkungan sekolah.
b. Bagi pengembangan ilmu
Menjadi masukan yang berguna untuk penelitian selanjutnya dan sekaligus sebagai masukan bagi guru pembimbing dalam rangka pengembangan bimbingan dan konseling.
c. Bagi siswa
Dengan dilaksanakanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengertian terhadap siswa khususnya tentang layanan konseling kelompok dan perilaku agresif. Sehingga dapat diketahui sejauh mana efektifitas layanan konseling kelompok dalam mengurangi perilaku agresif siswa.

G. Definisi Operasional
Variabel dalam penelitian ini yang akan dijelaskan adalah variabel bebas dan variabel terikat. Variabel tersebut adalah sebagai berikut: variebel bebas dalam penelitian ini adalah konseling kelompok, dan perilaku agresif siswa sebagai variable terikat.
1. Perilaku agresif
Perikau agresif adalah tindakan yang bersifat kekerasan, yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Dalam agresi terkandung maksud untuk membahayakan atau mencederai orang lain.
Bahaya atau pencederaan yang diakibatkan oleh perilaku agresif bias berupa bahaya atau pencederaan fisikal, namun pula bias berupa bahaya atau pencederaan nonfisikal, semisal yang terjadi sebagai akibat agresi verbal (agresi lewat kata-kata tajam menyakitkan). Contoh lain dari agresi yang tidak secara langsung menimbulkan bahaya atau pencederaan fisikal adalah pemaksaan, intimidasi (penekanan), dan pengucilan atau pengasingan sosial.
Perilaku agresif (suka menyerang) lebih menekankan pada suatu perilaku yang bertujuan untuk menyakiti hati atau merusak barang orang lain secara sosial tidak dapat diterima dalam kehidupan bermasyarakat. Berikut adalah bentuk-bentuk agresifitas, yaitu: (a) Agresi fisik aktif langsung; memukul, mendorong, berkelahi, menendang, dan menampar, (b) agresif verbal aktif langsung; menghina, memaki, marah, dan mengumpat.

2. Konseling kelompok
Layanan konseling kelompok merupakan hubungan khusus dimana klien merasa aman untuk berdiskusi tentang apa yang mereka khawatirkan dan menjengkelkan untuk mengerti apa yang mereka inginkan, melatih ketrampilan yang ada dalam diri sendiri dan untuk melatih tingkah laku yang mereka inginkan. Layanan konseling kelompok beranggotakan 6-10 orang. Lama pertemuan antara 40-60 menit tergantung dari permasalahan atau topik yang dibahas.
Proses pelaksanaan terdiri dari empat tahap yaitu tahap pembentukan yang berisi perkenalan penyampaian tujuan, azas-azas serta dengan permainan sebagai pengakraban, tahap peralihan yang berisi pemantapan dari para aanggota kelompok, tahap kegiatan yang berisi tentang pembahasan masalah atau topik yang terjadi dalam kelompok, dan tahap pengakhiran yang berisi penyampaiaan hasil konseling kelompok serta tanggapan dan saran dari para anggota kelompok. Peranan pemimpin kelompok di sini sebagai pengatur jalannya lalu lintas selama kegiatan konseling berlangsung.

H. Kajian Teori
1. Perilaku agresif
a. Pengertian perilaku agresif
Perilaku agresif dapat dikategorikan sebagai bentuk gangguan emosional, biasanya timbul karena ketidakmampuan individu menyesuaikan diri dengan lingkunganya, yang diwujudkan dalam bentuk perilaku agresif atau pemencilan dan penarikan diri. Keagresifan siswa merupakan kesalahan dalam penyesuaian diri, berbentuk kenakalan, kebrutalan, kekerasan, dan kemarahan (Sukmadinata, 2007: 413). Lingkungan peserta didik diwarnai dengan perilaku-perilaku agresif, sehingga agresifitas menjadi pola interaksi, terbentuk pada setiap anggotanya secara mekanistik, melalui pembiasaan.
Menurut Anantasari (2006: 63), pada dasarrnya perilaku agresif pada manusia adalah tindakan yang bersifat kekerasan, yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Dalam agresi terkandung maksud untuk membahayakan atau mencederai orang lain. Perilaku agresif juga dapat disebut sikap bermusuhan yang ada dalam diri manusia. Perilaku agresif diindikasikan antara lain oleh tindakan untuk menyakiti, merusak, baik secara fisik, psikis, maupun social. Sasaran orang yang berperilaku agresif tidak hanya ditujukan kepada musuh tetapi juga kepada benda-benda yang ada dihadapanya yang memberi peluang bagi dirinya untuk merusak.
Perilaku menyerang, memukul, dan mencubit yang ditunjukan oleh siswa bias dikategorikan sebagai perilaku agresif. Perilaku ini muncul karena siswa merasa frustasi menghadapi lingkungan yang sulit ia kendalikan atau tidak sesuai dengan keinginannya (Itabiliana, 2008: 17).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku agresif adalah perilaku seseorang yang diwujudkan dalam tindakan penyerangan secara fisik maupun non fisik terhadap orang lain yang dapat membahayakan atau mencederai orang lain. Perilaku agresif juga dapat disebut sikap yang bermusuhan yang ada pada diri manusia. Hal ini berarti bahwa tindakan atau perilaku menyakiti orang lain baik secara fisik maupun non fisik dan sosial dapat diindikasikan sebagai bentuk tindakan perilaku agresif.

b. Ciri-ciri perilaku agresif
Menurut Sukmadinata (2007: 414), perilaku-perilaku agresif dimanifestasikan keluar supaya dapat diamati oleh orang lain. Oleh karena itu, untuk menilai siswa memilki kecenderungan perilaku agresif atau tidak, guru atau konselor dapat mengidentifikasi dan melihatnya berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut: Siswa seringkali berbohong, walaupun ia seharusnya berterus terang, menyontek, meskipun seharusnya tidak perlu menyontek. Suka mencuri, atau mengatakan ia kecurian bila barangnya tidak ada. Suka merusak barang orang lain atau barangnya sendiri, melakukan kekejaman, menyakiti orang lain, berbicara kasar, menyinggung perasaan orang lain, tidak peduli pada orang lain yang membutuhkan pertolongannya, dan suka menggangu siswa lain yang lebih kecil atau lebih lemah. Serta seringkali marah-marah, uring-uringan, memukulkan kaki tangan, menangis dan menjerit.
Sementara itu menurut Anantasari (2006: 80, 90, 91, 107), ciri-ciri perilaku agresif sebagai berikut:
1) Perilaku menyerang; perilaku menyerang lebih menekankan pada suatu perilaku untuk menyakiti hati, atau merusak barang orang lain, dan secara sosial tidak dapat diterima.
Contoh; sikap anak yang mempertahankan barang yang dimiliknya dengan memukul.
2) Perilaku menyakiti atau merusak diri sendiri, orang lain, atau objek-objek penggantinya; perilaku agresif termasuk yang dilakukan anak, hamper pasti menimbulkan adanya bahaya berupa kesakitan yang dapat dialami oleh dirinya sendiri atau orang lain. Bahaya kesakitan dapat berupa kesakitan fisik, misalnya pemukulan, dan kesakitan secara psikis misalnya hinaan. Selain itu yang perlu dipahami juga adalah sasaran perilaku agresif sering kali ditujukan seperti benda mati. Contoh : memukul meja saat marah.
3) Perilaku yang tidak diinginkan orang yang menjadi sasaranya; perilaku agresif pada umumnya juga memiliki sebuah cirri yaitu tidak diinginkan oleh orang yang menjadi sasaranya. Contoh: tindakan menghindari pukulan teman yang sedang jengkel.
4) Perilaku yang melanggar norma social; perilaku agresif pada umumnya selalu dikaitkan dengan pelanggaran terhadap norma-norma sosial.
5) Sikap bermusuhan terhadap orang lain; perilaku agresif yang mengacu kepada sikap permusuhan sebagai tindakan yang di tujukan untuk melukai orang lain. Contoh: memukul teman
6) Perilaku agresif yang dipelajari; perilaku agresif yang dipelajari melalui pengalamannya di masa lalu dalam proses pembelajaran perilaku agresif, terlibat pula berbagai kondisi sosial atau lingkungan yang mendorong perwujudan perilaku agresif. Contoh: kekerasan dalam keluarga, tayangan perkelahian dari media.
Dilihat dari uraian pendapat diatas maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa ciri-ciri perilaku agresif yaitu: perilaku atau tindakan menyerang, kekejaman, seringkali marah-marah, perilaku menyakiti atau merusak diri sendiri, orang lain atau objek-objek penggantinya, dan perilaku melanggar norma sosial sehingga menjadikan sikap bermusuhan terhadap orang lain, dan kerugian pihak yang menjadi korban perilaku agresif.

b. Faktor yang mempengaruhi perilaku agresif
Perilaku agresif pada anak agaknya cukup meresahkan apabila dilihat dari akibat yang mungkin ditimbulkanya. Perilaku agresif pada umumnya dipahami sebagai perilaku yang dimaksudkan untuk melukai orang lain. Perilaku ini termasuk salah satu perilaku yang tidak dapat diterima oleh lingkungan sosial. Menurut Anantasari (2006: 92). Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku agresif tersebut antara lain oleh hal-hal berikut ini:
1. Frustasi; Secara umum, frustasi pada individu akan muncul ketika banyak terdapat harapan yang tidak terpenuhi. Frustasi ternyata berkaitan dengan agresi. Sebuah teori mengatakan bahwa agresi selalu merupakan konsekuensi dari frustasi dan frustasi selalu menimbulkan agresi. Oleh karenanya, situasi menekan dan tanpa harapan yang dialami anak sangat mungkin memicu terjadinya perilaku agresif.
2. Pembelajaran sosial dan hadiah; munculnya agresi juga diungkap oleh Bandura lewat teori belajar sosialnya. Teori ini mengungkapkan bahwa manusia belajar agresif dengan melihat model yang diidolakan, seorang anak akan menganggap dirinya mendapat hadiah atau menjadi hebat seperti tokoh yang diidolakan. Selain meniru pada model, perilaku agresif juga dapat muncul karena anak mendapat hadiah. Misalnya saja anak menjadikan perilaku agresif sebagai mekanisme yang akan selalu ia lakukan ketika lingkungan atau orangtuanya selalu memberikan apa yang diinginkan anak ketika melakukan perilaku tersebut.
3. Pengaruh kelompok; penyebab agresifitas berkaitan juga dengan pengaruh kelompok. Ketika seorang anak masuk dalam kelompok, ada kecenderungan untuk menaati peraturan yang dimiliki kelompok. Ketaatan ini akan diperjuangkan karena akan menghasilkan penerimaan, penghargaan, bahkan pengakuan. Ketaatan ini pada akhirnya juga muncul ketika anak dituntut untuk melakukan perilaku agresif.
4. Pengaruh lingkugan fisik; pengaruh lingkungan fisik yang buruk dalam banyak hal dapat menjadi faktor pemicu munculnya agresi. Misalnya saja lingkungan yang sangat bising dan panas dapat mendorong orang bertindak dengan cara-cara yang keras.

c. Pemicu terjadinya perilaku agresif
Perilaku agresif dapat terjadi karena dipicu oleh: (1) terpicu oleh hal kecil, (2) menyakiti teman, (3) untuk mencari perhatian (Anantasari, 2006: 23). Menurut Itabiliana (2008: 17-18), dalam keadaan frustasi, anak menjadi mudah terpicu untuk bereaksi secara fisik. Anak juga mudah menjadi agresif jika kondisi fisiknya sedang tidak nyaman: lelah, lapar, mengantuk, atau sakit.

d. Dampak perilaku agresif
Dampak buruk perilaku agresif bagi korban-korbanya meniscayakan kita selalu berupaya mengeliminasikan factor-faktor penyebab perilaku agresif. Dengan upaya tersebut diharapkan dapay meminimalkan terjadinya tindakan perilaku agresif. Menurut Anantasari (2006: 66), dampak buruk bagi korban perilaku agresif meliputi perasaan tidak berdaya korban, kemarahan setelah menjadi korban perilaku agresif, perasaan bahwa diri sendiri mengalami kerusakan permanent, ketidakmampuan memercayai orang lain dan ketidakmampuan menggalang relasi dekat dengan orang lain, keterpakuan pada pikiran tentang tindakan agresif atau kriminal. Hilangnya keyakinan bahwa dunia bias berada dalam tatanan yang adil.

e. Mengatasi perilaku agresif
Menurut Itabiliana (2008: 19), untuk menghilangkan perilaku agresif dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman pada anak bahwa perilaku agresifnya tidak dapat diterima. Perkenalkan anak terhadap akibat dari perilakunya tersebut. Misalnya, tidak boleh masuk kelas lagi kalau memukul teman. Sekecil apapun berikan perhatian besar terhadap perilaku yang positif, dengan demikian anak akan belajar perilaku mana yang diharapkan, dan perilaku perilaku mana yang ditolak oleh lingkungan sosialnya.
Menurut Anantasari (2006: 48), cara mengatasi perilaku agresif adalah dengan memberi empati, dorong anak untuk mencurahkan perasaanya, tanggapi dengan bijak, jangan terlalu melindungi, tumbuhkan percaya diri dan kembangkan kemampuanya, lakukan pengamatan, dan diskusikan dengan guru.
1) Beri empati; dorong anak untuk mencurahkan perasaannya, menjadi pendengar yang baik berarti mendengarkan secara aktif tidak hanya mendengarkan apa yang diucapkan, tetapi juga memperhatikan bahasa tubuhnya. Yang penting adalah usahakan untuk menunjukan empati dapat memahami perasaan atau situasi yang dihadapi anak. Dorong anak supaya mau mencurahkan isi hatinya. Yakinkan anak bahwa anda mendengar dan memahaminya dengan mengulang apa yang dikatakannya dan rumuskan kembali pernyataan anak.
2) Tanggapi secara bijak; tanggapan yang bijaksana, penuh empati, dan jauhdari kesan menginterogasi, akan mendorong anak untuk lebih terbuka. Jangan menaggapi cerita secara emosional dan terburu-buru memberi komentar dan saran, apalagi kalau sampai memarahinya.
3) Jangan terlalu melindungi; ajarkan pada anak untuk mengatasi masalahnya sendiri. Sikap selalu melindungi akan membuat terus bergantung dan kurang mengembangkan kemampuan untuk bersikap yang tepat bila menghadapi kejadian serupa. Berikan pertanyaan-pertanyaan yang membimbing dan alternatif tindakan yang dapat diambilnya, misalnya dengan mengatakan “menurutmu, sebenarnya kamu bisa berbuat apa?”.
4) Tumbuhkan percaya diri dan kembangkan kemampuanya; anak yang sering menjadi korban agresifisitas biasanya kurang mempunyai kepercayaan diri. Ia merasa inferior dibandingkan dengan seorang agresor sehingga merasa tidak berdaya menghadapinya. Tunjukkan kepada anak bahwa masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan.
5) Lakukan pengamatan; amati setiap perkembangan yang terjadi, tidak perlu terlibat langsung tetapi perhatikan bagaimana anak berinteraksi dengan temannya. Sediakan diri menjadi teman untuk mengadu dan mendapatkan rasa aman untuk mendorongnya dan ajak anak untuk mengevaluasi keadaan dirinya.
6) Diskusikan dengan guru; ada baiknya dari permasalahan yang dihadapi anak dapat didiskusikan dengan guru atau wali kelasnya apabila kejadianya disekolah. Mintalah bantuan guru untuk mengamati.

2. Layanan konseling kelompok
a. Pengertian layanan konseling kelompok
Layanan konseling kelompok merupakan salah satu layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Layanan konseling kelompok secara terpadu dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling disekolah merupakan upaya pemberian bantuan untuk dapat memecahkan masalah siswa dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Seperti halnya layanan bimbingan dan konseling, Layanan konseling kelompok juga memiliki keistimewaan dan keunggulan, keistimewaan dan keunggulan tersebut adalah dapat terciptanya interaksi secara langsung antar siswa atau anggota kelompok, sehingga tercipta suasana senasib dan sepenanggungan untuk mengatasi setiap masalah yang dihadapi.
Layanan konseling kelompok memberikan kesempatan kepada anggota kelompok untuk beriteraksi antar pribadi yang khas yang tidak mungkin terjadi pada layanan konseling individu atau perorangan, interaksi sosial yang intensif dan dinamis selama pelaksanan. layanan diharapkan tujuan-tujuan layanan yang sesuai dengan kebutuha-kebutuhan individu anggota kelompok tetap tercapai secara mantap. Pada kegiatan konseling kelompok setiap anggota kelompok mendapat kesempatan untuk menggali setiap masalah yang dialami oleh anggota kelompok. Kelompok juga dapat dipakai untuk belajar mengekspresikan perasaan,menunjukan perhatian orang lain, dan berbagai pengalaman. Pendekatan instruksional merupakan pendekatan yang digunakan dalam layanan konseling kelompok dalam pendekatan ini menitik beratkan interaksi atau hubungan timbal balik antara anggota-angota dengan pemimpin kelompok dan sebaliknya yang akan nampak dalam dinamika kelompok. Menurut Prayitno (1995: 23) melalui dinamika kelompok setiap anggota kelompok diharapkan mampu tegak sebagai perorangan yang sedang mengembangka dirinya dalam hubungannya dengan orang lain ini tidak berarti bahwa diri seseorang lebih dimunculkan dari pada
kehidupan secara umum. Maksudnya adalah individu diharapkan mampu mengendalikan dan mengembangkan dirinya sendiri dalam suasana kelompok sehingga individu tersebut dapat berperan aktif dalam kelompok.

b. Hakekat layanan konseling kelompok
Konseling kelompok mentepakan salah satu layanan bimbingan dan konselig yang diselenggarakan di sekolah layanan. Konseling kelompok pada hakekatnya adalah wawancara, konseling antara konselor professional sebagai pemimpin kelompok utuk memecahkan masalah dengan pertimbangan pribadi para anggota kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Konseling kelompok bersifat memberikan kemudahan dalam pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti bahwa konseling, kelompok memberikan dorongan dan motivasi kepada individu untuk membuat perubahan-perubahan atau bertindak dengan memanfaatkan potensi secara maksimal sehingga dapat mewujudkan potensi diri.
Konseling kelompok dapat dijadikan sebagai media mengembangkan pribadi kedirian dan mementingkan kepentingan-kepentingan orang lain. Senada dengan apa yang dikatakan Prayitno (1995: 24) layanan konseling kelompok seharusnya menjadi tempat pengembangan sikap ketrampilan dan keberanian sosial yang bertenggang rasa.

c. Fungsi Layanan Konseling Kelompok
Fungsi layanan konseling kelompok yang paling utama adalah kuratif atau pengentasan masalah tetapi ada fungsi-fungsi yang lain. Menurut Sukardi (2000: 453), konseling kelompok tidak hanya merupakan pertolongan yang, kuratif dan prefentif tetapi dapat juga bersifat perseveratif klien dapat melaksanakan fungsinya di masyarakat mungkin dalam bentuk pengalaman hidupnya.

d. Tujuan layanan konseling kelompok
Menurut Winkel (1997: 544) tujuan layanan konseling kelompok yaitu:
1) Masing-masing anggota kelompok memahami dirinya dengan baik dan menemukan dirinya sendiri. berdasarkan pemahaman diri itu dia lebih rela menerima dirinya sendiri dan lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif dalam kepribadiannya. Anggota kelompok mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain sehingga mereka dapat saling memberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas pada fase perkembangan mereka.
2) Para anggota kelompok memperoleh kemampuan mengatur dirinya sendiri dan mengarahkan hidupnya sendiri, mula-mula dalam kontra antar pribadi didalam kelompok dan kemudian juga dalam kehidupan sehari-hari diluar kehidupan kelompoknya. Para anggota kelompok menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih marnpu menghayati perasaan orang lain. Kepekaan dan penghayatan ini akan lebih mambuat mereka lebih sensitif juga terhadap kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan sendiri. Masing-masing anggota kelompok menetapkan suatu sasaran yang ingin mereka capai, yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang lebih konstruktif. Para anggota kelompok lebih berani melangkah maju dan menerima resiko yang wajar dalam bertindak, dari pada tinggal diam dan tidak berbuat apa-apa. Para anggota kelompok lebih menyadari dan menghayati makna dan kehidupan manusia sebagai kehidupan bersama,yang mengandung tuntutan menerima orang lain dan harapan akan diterima orang lain.
3) Masing-masing anggota kelompok semakin menyadari bahwa hal-hal yang memprihatinkan bagi dirinya sendiri juga menimbulkankan rasa prihatin dalam hati orang lain. Dengan demikian dia tidak merasa teiisolir, atau seolah-olah hanya dialah yang mengalami permasalahan. Para anggota kelompok belajar berkomunikasi dengan anggota-anggota yang lain secara terbuka, dengan saling menghargai dan menaruh perhatian. Pengalaman bahwa komunikasi demikian dimukingkinkan, akan membawa dampak positif dalam kehidupan dengan orang-orang yang dekat dikemudian hari.
e. Tahap- tahap konseling kelompok
Menurut Prayitno (1995: 40), tahap-tahap pelaksanaan layanan konseling kelompok ada 4 tahap yang meliputi: tahap pembentukan , tahap peralihan, tahap kegiatan dan tahap pengakhiran.
1). Tahap pembentukan merupakan tahap pengenalan , pelibatan diri, pemasukan diri, adapun tujuan dari tahap ini adalah anggota memahami pengertian dan kegiatan kelompok dalam rangka konseling kelompok. Menumbuhkan suasana kelompok tumbuhnya minat anggota tumbuhnya saling mengenal percaya menerima dan membantu diantara para anggota tumbuhnya suasana bebas dan terbuka dan dimulainya pembahasan tentang tingkah laku dan perasaan dalam kelompok.
Kegiatan dalam tahap pembentukan antara lain mengungkapkan pengertian dan tujuan konseling kelompok dalam rangka pelayanan bimbingan dan konseling, menjelaskan cara-cara dan azas-azas kegiatan kelompok, saling mengungkap dan memperkenalkan diri, permainan penghangatan/pengakraban. Peranan pemimpin kelompok dalam tahap pembentukan menampilkan diri utuh dan terbuka menampilakan penghormatan kepada orang lain hangat, tulus bersedia membantu dengan penuh empati.
2). Tahap peralihan merupakan jembatan antara tahap pertama dengan tahap ketiga. adapun tujuan dari tahap peralihan adalah terbebaskanya anggota dari perasaan atau sikap enggan, ragu, malu atau saling tidak percaya untuk memasuki tahap berikutnya, makin mantapnya suasana kelompok dan kebersamaan, makin mantapnya minat untuk ikut serta dalam kegiatan kelompok. Adapaun kegiatan dalam tahap ini menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya, menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap berikutnya, meningkatkan keikutsertaan anggota. Peranan pemimpin kelompok, menerima suasana yang ada secara sadar dan terbuka tidak mempergunakan cara-cara yang bersifat langsung atau mengambil alih kekuasaan, mendorong dibahasnya suasana perasaan, membuka diri sebagai contoh dan penuh empati.
3.) Tahap kegiatan bertujuan membahas suatu masalah atau topik yang relevan dengan kehidupan anggota secara mendalam dan tuntas adapun dalam tahap ini adalah pemimpin kelompok mengumumkan suatu masalah atau topik tanya jawab antara anggota dan pemimpin kelompok tentang hal-hal belum yang jelas menyangkut masalah atau topik tersebut secara tuntas dan mendalam. Adapun peranan pemimpin kelompok adalah sebagai pengatur lalu-lintas yang sabar dan terbuka, aktif tetapi tidak banyak bicara.
4) Pada tahap pengakhiran merupakan penilaian dan tindak lanjut, adanya tujuan terungkapnya kesan-kesan anggota kelompok tentang pelaksanaan kegiatan, terungkapnya hasil kegiatan kelompok yang telah dicapai yang dikemukakan secara mendalam dan tuntas, terrumuskan rencana kegiatan lebih lanjut, tetap dirasakannya hubungan kelompok dan rasa kebersamaan meskipun kegiatan diakhiri. Sedangkan kegiatan dalam tahap ini pemimpin kelompok mengungkapkan bahwa kegiatan akan segera diakhiri, pemimpin dan anggota kelompok mengemukakan kesan dan hasil-hasil kegiatan, membahas kegiatan lanjutan, mengemukakan perasaan dan harapan. Peranan pemimpin kelompok dalam tahap ini adalah tetap mengusahakan suasana hangat, bebas dan terbuka, memberikan pernyataan dan mengucapkan terima kasih atas keikutsertaan anggota, memberikan semangat untuk kegiatann lebih lanjut, penuh rasa persahabatan dan empati.

I. Kerangka Berpikir
Layanan konseling kelompok dalam bimbingan konseling bermaksud memberikan pemahaman kepada siswa sebab dan akibat terjadinya perilaku agresif, dengan harapan siswa dapat mengetahui akibat dari perilaku yang dilkaukan yaitu perilaku agresif, kemudian tidak melakukannya dalam kehidupan efektifnya sehari-hari. Masyarakat sudah sering mendengar permasalahan yang dilakukan para remaja, sering terjadi perkelahian antar pelajar, membuat gaduh dan merusak. Maka dari itu dengan adanya pemberian layanan konseling kelompok yang membahasas masalah perilaku agresif oleh guru pembimbing akan sangat membantu dalam penanggulangan perilaku agresif yang pada saat ini sudah menjadi suatu hal yang biasa bagi para siswa.
Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah


J. Hipotesis
Sehubungan dengan permasalahan yang diajukan, maka hipotesis yang akan diuji kebenarannya dirumuskan sebagai berikut: “ Layanan konseling kelompok sangat efektif dalam mengurangi perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Hasanuddin 10 Semarang tahun pelajaran 2010/2011”

K. Metodologi Penelitian
1. Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Hasanuddin 10 Semarang. Alasan peneliti mengadakan penelitian di tempat tersebut karena peneliti sering menemukan tindakan perilaku agresif siswa di sekolah tersebut. Hal ini dikarenakan peneliti bekerja di sekolah tersebut sebagai guru Bimbingan dan Konseling sejak tahun 2008. Berbekal pengalaman dan munculnya fakta tersebut maka peneliti berusaha untuk mengurangi perilaku agresif siswa dengan menggunakan layanan konseling kelompok, sehingga dapat terbukti pula sejauh mana efektifitas layanan konseling kelompok dalam mengurangi perilaku agresif siswa.
2. Waktu penelitian
Penulis merencanakan waktu penelitian bulan Mei sampai juni 2011 dengan tempat penelitian di SMP Hasanuddin 10 Semarang Tahun Pelajaran 2010-2011. Adapun secara rinci pelaksanaan penelitian sebagai berikut:
Tabel I. Rencana pelaksanaan penelitian
No Waktu Uraian Kegiatan
1 2 Mei 2011 Observasi lapangan dan pengumpulan data
2 7 Mei 2011 Pelaksanaan Pretest
3 10 Mei-31 Mei 2011 Pelaksanaan layanan konseling kelompok
4 4 Juni 2011 Pelaksanaan Post-test
5 6 Juni 2011 Analisis dan penyusunan laporan

3. Populasi, sampel, dan sampling
a. Populasi
Dalam penelitian ini yang penulis jadikan populasi yaitu siswa kelas VIII SMP Hasanuddin 10 Semarang tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 102 siswa. Penulis memilih populasi kelas VIII dikarenakan jika dilihat dari usia, siswa tersebut berada dalam masa perkembangan pubertas yakni suatu masa dimana individu berubah dari makhluk aseksual menjadi makhluk seksual, masa ini terjadi pada usia 12-16 tahun. Dan pada masa ini disertai perubahan-perubahan dalam pertumbuhan somatis dan perspektif psikologis. Sehingga sering kali menimbulkan perilaku bermasalah seperti halnya perilaku agresif.
Tabel II. Populasi
No Kelas Jumlah Populasi
1 VIII A 35
2 VIII B 35
3 VIII C 32
Jumlah 102

b. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari jumlah populasi yang diteliti. Karena jumlah populasi yang lebih dari 100, maka menurut Arikunto (2006: 134) sample yang diambil antara 10-30%. Dalam penelitian ini peneliti mengambil 30% sampel saja dari jumlah populasi yang ada, dengan pertimbangan kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana. Jadi sampel yang diambil sejumlah 30 siswa dari jumlah keseluruhan 102 siswa kelas VIII.
c. Sampling
Peneliti menggunakan teknik purposive sample untuk pengambilan sample dalam populasi yang ada. Purposive sample atau sample bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasrkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu (Arikunto, 2006: 139). Subjek yang diambil sebagai sampel benar-benar merupakan subjek yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat dalam perilaku agresif.
Teknik ini diambil karena peneliti benar-benar ingin mengetahui keefektifan layanan konseling kelompok dalam mengurangi perilaku agresif siswa, maka dari itu sampel yang diambil adalah siswa yang berperilaku agresif sesuai ciri-ciri yang ada.
Mengingat sampel yang diambil adalah 30% dari populasi yaitu berjumlah 30 siswa dari jumlah keseluruhan 102 siswa kelas VIII, maka sampel tersebut akan dibagi menjadi 3 kelompok untuk proses layanan konseling kelompok. Hal ini dikarenakan jumlah anggota konseling kelompok adalah 6-10 siswa.
4. Metode penelitian
Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan pendekatan pre-eksperimental design pretest-postest group dan termasuk kategori penelitian kuantitatif. Dan alat yang digunakan untuk pengumpulan data adalah angket skala perilaku.
5. Instrumen penelitian
Untuk mencapai hasil yang objektif, suatu penelitian ilmiah mensyaratkan penggunaan prosedur pengumpulan data yang akurat, objektif dan berdasarkan masalah yang dirumuskan. Untuk itu instrumen yang hendak dipakai dikemas dalam bentuk angket skala bertingkat dengan kisi-kisi instrument sebagai berikut:
Tabel III. kisi-kisi instrument perilaku agresif
No Variabel Indikator Jumlah item Nomor item
Pernyataan positif Pernyataan negatif
1 Perilaku agresif 1) perilaku yang tidak diinginkan oleh orang yang menjadi sasaran 6 4, 2, 6 1, 3, 5
2) Perilakuyang melanggar norma sosial 6 8, 10 ,12 7, 9, 11
3) Perilaku menyerang 6 14, 16, 18 13, 15, 17
4) Perilaku menyakiti atau merusak diri sendiri, orang lain, atau objek-objek penggantinya 6 20, 22, 24 19, 21, 23
5) Sikap bermusuhan terhadap orang lain 6 26, 28, 30 25, 27, 29
6) Perilaku agresif yang dipelajari atau ditiru 6 32, 34, 36 31, 33, 35
Jumlah 36 18 18


Tabel IV. Distribusi pemberian skor skala kemandirian
No Kategori Skor
Positif Negatif
1 Sangat Sering (SS) 4 1
2 Sering (S) 3 2
3 Pernah (P) 2 3
4 Tidak Pernah (TP) 1 4

6. Rancangan penelitian
Menurut Soegeng ( 2007: 161 ) Rancangan penelitian terkait erat dengan metode penelitian. Setiap metode penelitian memiliki rancangannya sendiri. Berikut ini dibicarakan rancangan penelitian dari metode eksperimen. Rancangan eksperimental dapat diklasifikasikan ke dalam a). Rancangan penelitian pra-eksperimental, dan b). Rancangan penelitian eksperimen sungguhan, termasuk rancangan penelitian eksperimental semu, tetapi penulis dalam penelitian ini memilih rancangan penelitian pra-eksperimental One group pretest-posttes desigh. Rancangan ini menggunakan kontrol yang minimal, dengan gambar sebagai berikut :
Tes-awal Perlakuan Tes-akhir

Keterangan :
T 1: pretest (tes awal) T2 : posttest (tes akhir) X : treatment (perlakuan)
Langkah-langkah pengumpulan dan analisis data dapat digambarkan sebagai berikut:
a) Lakukan tes-awal T1, untuk mengukur skor rata-rata ( mean ) sebelum subyek mendapatkan layanan konseling kelompok dengan menggunakan instrumen yaitu angket skala psikologis.
b) Berikan perlakuan X, yaitu treatmen layanan konseling kelompok
c) Lakukan tes-akhir T2, untuk mengukur skor rata-rata setelah subyek mendapatkan perlakuan X dengan instrumen yang sama dengan pengukuran pertama.
d) Membandingkan T1 dengan T2 untuk menentukan ada atau tidak ada perbedaan sebagai akibat dari perlakuan X, yaitu perubahan perilaku agresif.
e) Perbedaan tersebut, bila ada diuji dengan teknik statistik yang sesuai untuk menentukan apakah perbedaan tersebut signifikan ( berarti, bermakna ).
7. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
a. Validitas instrumen
Untuk mengukur apakah skala psikologis mampu menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya, maka diperlukan pengujian validitas. Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukan tingkatan kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen (Arikunto, 2006:168).
Sebuah instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrument dikatakan valid apabila dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud. Dalam penelitian ini penulis menggunakan rumus korelasi product moment dengan data angka kasar sebagai berikut:
N (∑xy) – (∑x) (∑y)
rxy =
{N∑x2 – (∑x)2}{N∑Y2 – (∑Y)2}
Keterangan :
rxy : Koefisien korelasi variabel x dan variabel y
X : Jumlah nilai variabel bebas
Y : Jumlah nilai variabel terikat
N : Jumlah siswa
b. Reliabilitas instrument
Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan bersifat bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu (Arikunto, 2006: 178).
Untuk mengetahui reliabilitas alat ukur dapat digunakan rumus alpha:

Keterangan:
r11 = Reliabilitas instrumen
K = Banyaknya butir pernyataan
∑ b2 = Jumlah varians butir
t2 = Varian total
8. Analisis data
Menurut Arikunto (2006: 309), teknik analisis data merupakan suatu cara yang digunakan untuk mengolah data hasil penelitian guna memperoleh suatu kesimpulan. Teknik data yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas layanan konseling kelompok dalam mengurangi perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Hasanuddin 10 Semarang tahun 2010/2011 adalah menggunakan metode eksperimen dengan teknik cluster random sampling. Dalam test ini t-test digunakan untuk menguji signifikan perbedaan mean. Adapun rumus t-test yang digunakan adalah sebagai berikut:

Keterangan:
Md = Mean dari perbedaan pre-test (post test-pre-test)
Xd = Deviasi masing - masing subjek (d-Md)
∑ x2d = Jumlah kuadrat deviasi
N = Subjek pada sampel

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar